Gadis Ambai, Cerita Rakyat dari Bengkulu Sungai Ipuh - Bengkulutime.net - Info Lengkap Seputar Bengkulu

Friday, December 21, 2018

Gadis Ambai, Cerita Rakyat dari Bengkulu Sungai Ipuh


Bengkulutime.net, Mukomuko - Cerita Rakyat Bengkulu Gadis Ambai. Gadis Ambai adalah sebuah cerita rakyat dari Sungai Ipuh yang suatu daerah terpencil sebelah utara dekat perbatasan Kerinci. Cerita ini sebenarnya seirama dengan cerita Malim Deman atau pun cerita Nawang Wulan. Hanya saja perbedaannya, kalau Malin Deman dan Nawang Wulan pelakunya berasal dari bumi dan kayangan,maka cerita rakyat ini, kita akan menjumpai pelakunya berasal dari negeri bawah air. Yang lazim disebut rakyat sebagai hantu air.

Nah beginilah ceritanya. Di Sungai Ipuh suatu daerah sebelah utara dekat perbatasan Kerinci, hiduplah seorang bujang yang bernama Lelo. Perawakan badannya cukup perkasa dan tampan untuk ukuran pemuda masa itu, bujang Lelo ini sudah agak tua, belum juga disinggahi jodoh. Manakala teman sebayanya mengejeknya sebagai bujang tua, ia dengan tersenyum menjawab, "belum ada jodoh." Demikian olok-olok temannya itu semakin santer saja.

Karena tidak tahan menahan olok-olok itu bujang Lelo memutuskan untuk mengungsi ke kebun saja. Di kebun ia bekerja dengan rajin, selain bercocok tanam, ia mengusahakan penyadapan aren, untuk dibuat gula atau manisan. Letak kebunnya di tepi sebuah sungai besar, Selagan namanya. Sungai Selagan ini bersama-sama dengan sungai Majuto, bermuara di Muko-muko ibu Kota Kecamatan Muko-Muko Utara sekarang ini.

Pagi itu cerah. Seperti pagi dihari-hari kemarinnya. Bujang Lelo dengan rajin melewatkan waktunya mengumpulkan hasil sadapan air niranya. Tapi pagi ini sial kedatangan tamu. Tabung air nira yang terbuat dari ruas bambu ternyata kosong, sedang tabung-tabung yang terletak jauh dari sungai-sungai semuanya berisi. Ia bertanya-tanya di dalam hatinya. Mengapa pula air nira di tepi sungai ini kosong.

Sedang pada hari-hari kemarin aren tersebut banyak airnya. Sejak itu bujang Lelo selalu kecewa. Pernah pertengahan malam bujang Lelo memeriksa tabung-tabung itu ternyata berisi. Walau hanya beberapa tetes. Namun manakala pagi datang menjelang, tabung-tabung itu kosong. Sampailah di pagi yang ketujuh dan peristiwa itu terjadi lagi bujang Lelo bangkit amarahnya. Ia mulai nekad. Malam itu bulan purnama, ia mengambil keputusan untuk mengintai dari dekat. Siapakah gerangan yang mencuri air niranya. Di bawah pohon aren ia membentangkan tikarnya sambil berjaga dengan sebuah senjata.

Malam semakin larut sunyi dan sepi. Tapi sudah sekian jam berjaga-jaga tak ada tanda-tanda pencuri itu datang. Kira-kira tengah malam ia terkejut dengan suara bisikan halus dan merdu yang datang dari arah sungai. Ia terbangun, namun tetap terbaring. Perlahan-lahan bisikan itu semakin dekat dan nyata, ternyata suara dari beberapa orang wanita dari dekat, dilihatnya seorang gadis mendekat ke batang arennya. Ia menaiki tangga mencapai tabung nira dan minum beberapa teguk dengan hati-hati, kemudian diletakkan kembali lalu turun menuju sungai dan terjun. Bujang Lelo terpersona tanpa bersuara, ia tak sanggup mengambil tindakan.

Pada saat belum habis terpesonanya, muncul satu gadis lagi dan mengikuti perbuatan gadis yang pertama dan turun lalu terjun ke sungai. Bujang lelo bertambah tertarik. Ia menunggu selanjutnya. Demikianlah satu per satu gadis-gadis itu bergantian minum air nira dengan disaksikan oleh bujang Lelo dengan diam. Sampailah urutan ke tujuh muncul seorang gadis yang cantik dari yang lainnya Bujang Lelo hanya mampu mendesahkan napas berat saja. Ia seakan bermimpi indah dan hari pun siang. Sejak itu bujang Lelo selalu galisah. Kecewa yang selama itu mengganggu pikirannya telah sirna diganti dengan kegelisahan tak menentu.

Berhari-hari bujang Lelo duduk ngelamun. Gelisah dan resah telah menghinggapi kalbunya. Pikirannya melayang-layang teringat akan peristiwa malam itu. Maklum anak muda. Ia pulang ke desanya. Teman-temannya datang mengerumuninya sambil bertanya. Kapan ia mengakhiri masa perjakanya. Tetapi dengan tenang dijawabnya. "Belum ada jodoh." Pengalaman itu diceritakannya dengan sahabat karibnya. Sahabatnya hanya menganggap Bujang Lelo sudah berubah akalnya. Ia hanya mampu tersenyum kecut. Sahabatnya sedih melihat angan-angan Bujang Lelo yang tak masuk akal itu. Celakanya lagi sahabatnya mencarikan dukun untuk mengobati penyakit yang di derita Bujang Lelo. Dan dari di Dukun inilah tersiar berita yang sudah dibumbui disana-sini.

Bujang Lelo semakin sedih. Olok-olok yang diterimanya sudah melampaui batas. Ia meminta nasehat sahabatnya. Berusaha meyakinkan sahabatnya, bahwa ceritanya itu bukanlah hal yang mustahil. Kali ini sahabatnya menunjukkan simpatinya. Ia ingin bujang Lelo jangan berputus asa. Ia menganjurkan untuk membuktikan kata-katanya. Caranya mudah. Tangkap saja salah satu dari gadis-gadis itu dan bawa pulang ke desa untuk menyumpal mulut-mulut usil di desanya. Bujang Lelo menerima saran itu. Ia berjanji untuk menangkap gadis yang tercantik yaitu gadis yang ke tujuh.

Malam itu Bujang Lelo mengintai lagi di tempat semula. Tapi hasilnya nihil. Ia juga menyadap aren itu. Ia kesal sekali akan keceroboannya. Ia kecewa dan pulang untuk mengadukan hal itu kepada sahabatnya. Kali ini sahabatnya menanggapi lebih serius. Sialnya lagi olok-olok itu semakin bertambah. Ia terpaksa pulang ke kebunnya untuk mengadu untung sampai berhasil. Sore itu ia kembali memasang tabung sadapan air nira. Malam pertama, kedua dan ketiga ia biarkan saja sebagai siasat. Setiap pagi ia rajin memeriksa tabung itu. Jika airnya ada, berarti gadis-gadis itu belum datang. Hari yang keempat didapatinya tabung itu kosong.

Berarti si Gadis telah datang. Benar saja, pada malam yang berikutnya gadis-gadis itu datang. Dari jauh sudah dilihatnya tujuh bayangan samar-samar mendekati pojon arennya. Satu per satu bayangan itu berganti-ganti untuk bergiliran menaiki tangga pohon aren itu. Bujang Lelo menunggu giliran yang ke tujuh. Tepat ketika yang ketujuh sedang menikmati air nira, Bujang Lelo sudah berada di bawah pohon menunggu dengan seutas tali. Perlahan sekali tangan gadis itu ditangkapnya. Gadis itu meronta-ronta, tapi dengan siap tali itu diikatkan ke tangan gadis itu dan diseret pulang. Dengan sekuat tenaga gadis itu ingin melepaskan diri. Namun tak dapat dan haripun siang.

Bujang lelo menatap sepuas hatinya kepada gadis itu, ia mereguk kejelitaan itu dengan matanya. Bujang Lelo bertanya, "Siapa namamu?" membalas gadis itu bertanya; "Kau siapa?" "Jawab dulu pertanyaanku tadi." Bujang Lelo tergagap.

"Pertanyaan apa?"

"Namamu siapa hai gadis yang jelita?"

"Namaku?"

"Ia namamu."

"Teman- temanku memanggilku Gadis Ambai."

"Oh, Gadis Ambai, Sebuah nama yang baik"

"Dan kau?"

"Aku bisa dipanggil si Bujang Lelo."

"Hai bujang Lelo lepaskan ikatan ini. Aku bukan tawanan."

"Kau telah menawan hatiku," kata Bujang Lelo.

"Maafkan aku telah mencuri air niramu itu"

"Oh itu tidak menjadi soal", balas bujang Lelo.

"lalu untuk apa engkau mengikat aku ini?"

"Lepaskanlah."

"Tidak, nanti kau lari ke sungai itu, dan aku akan dicemoohkan oleh teman-temanku lagi."

"Aku tidak akan lari."

"Jangan kau bersiasat."

"Demi Tuhan aku tidak akan lari lepaskan aku, sudahlah siksaan ini Hai, Bujang Lelo" suara Gadis Ambai memelas.

"Berjanjilah Engkau," Kata Bujang Lelo. "Baik aku akan menurutmu," kata Gadis Ambai.

"Baiklah akan kulepaskan, tapi bukan disini, didesaku."

"Kau akan mempertontonkan aku?" kata Gadis Ambai.

Bujang Lelo berpikir sejenak, ia kasihan dengan keadaan tawanannya, lalu tali dilepaskannya. Kemudian Gadis Ambai berkata. "Aku tepati janjiku, mari kita ke desamu. Jangan melamun hei?" Waktu itu memang Bujang Lelo sedang melamun. Kedua remaja itu beriringan menuju ke desa, terus ke rumah ibunda si Bujang Lelo. Semua teman yang mencemoohnya kini berbalik memuji kecantikan Gadis Ambai. Semua memberikan komentar. "Memang aduhai, pantas saja Bujang Lelo sampai tua menunggu pujaan hatinya."

Hari-hari dilewati gadis itu dengan menolong semua pekerjaan ibunda Bujang Lelo. Sampailah pada suatu hari Bujang lelo meminta agar ibunda menikahkannya dengan Gadis Ambai.

"Ibu bagaimana kalau aku menikah dengan Gadis Ambai itu?"

"Boleh saja. Tapi ia hidup dialam lain. Dan kau hidup di alam yang berbeda dengannya. Apakah kau sudah berpikir masak-masak?"

"Sudah ibu."

"Setujukah dia kepadamu?" bujang Lelo hanya senyum-senyum saja. Gadis Ambai di tanya pula oleh si Ibu.

"Hai anakku Gadis Ambai, kemarilah engkau." "Siap bu." "Ibu ingin bertanya. "Jawab gadis Ambai pula, "Apakah yang ibu ingin tanyakan?"

"Begini anakku, si Bujang Lelo ingin menyuntingmu?"

"Apakah kau setuju?" Saya setuju," kata Gadis Ambai. namun dengan sebuah syarat. Syaratnya yaitu agar tidak membiarkannya mandi di sungai, Begitulah akhirnya perkawinan dilangsungkan. Pesta cukup meriah semua orang mengetahui bahwa Bujang Lelo telah menemukannya jodohnya.

Sudah sepuluh tahun mereka hidup sebagai suami-istri dan telah dikarunia seorang anak laki-laki yang sehat. Sawah dan ladang tumbuh dengan subur. Ternak ayam, itik, kambing dan kerbau demikian juga. Rukun dan damai hidup mereka.

Pagi itu Bujang Lelo pergi ke hutan mencari rotan. Guna untuk mempersiapkan menuai padi. Seperti biasanya gadis Ambai membawa anaknya ke sungai untuk mandi-mandi. Keadaan air sungai di pagi itu membuat keasyikan sendiri di dalam jiwanya. Menyelam dengan asyiknya sehingga ia lupa dengan anaknya yang sedang kedinginan di tepi. Anak itu memanggil sambil menangis, tapi tak dihiraukan lagi. Ia kembali ke alamnya semula. Siluman air. Bujang Lelo pulang dari hutan didapatkannya anaknya sudah kedinginan, menangis sambil memanggil ibunya. Bujang Lelo teringat akan janjinya tapi kini sudah terlambat.

Di sepanjang sungai Bujang Lelo berjalan menggendong anaknya sambil berteriak, namun tak ada jawaban. Ia berjalan terus. Di sebuah lubuk, Semantung Tinggi namanya, Bujang Lelo mendengar suara istrinya. "Hai Bujang Lelo bukan aku tak sayang padamu. Kanda telah lupakan janji. Jangan sesalkan aku peliharalah anak kita baik-baik. Kalau rindu akan daku tunggulah bulan purnama datang. Aku datang padamu. Tapi dalam mimpi." Tidak gadis Ambai. Aku sekarang rindu padamu. Tunggulah aku.

Aku akan segera menyusul bersama anak kita." "Jangan kanda" Namun peringatan itu terlambat. Bujang Lelo sudah terjun ke air itu menyusul sang istri tercinta. Anak dan bapak tenggelam di sungai bagai ditelan sungai Selagan. Sebab mayatnya tak dapat ditemukan. Ibu Bujang Lelo sangat sedih atas peristiwa anak itu, Sebab Bujang Lelo adalah tumpuan harapan untuk gantungan hidup masa tuanya. Bujang Lelo telah tiada.
Comments