2018 - Bengkulutime.net - Info Lengkap Seputar Bengkulu

Saturday, December 29, 2018

17 Jam menghilang, Korban ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa

Bengkulutime.net, Mukomuko - Setelah 17 jam lebih melakukan pencarian, akhirnya warga dibantu Relawan dan sejumlah pihak terkait akhirnya berhasil menemukan jasad Herli Akbar

Bengkulutime.net, Mukomuko - Setelah 17 jam lebih melakukan pencarian, akhirnya warga dibantu Relawan dan sejumlah pihak terkait akhirnya berhasil menemukan jasad Herli Akbar, Warga Desa Sinar Laut Kecamatan Pondok Suguh yang dilaporkan hilang kerena di seret Buaya saat memancing ikan di aliran sungai Hitam sejak pukul 15.00 Wib, Jum'at Sore kemarin. Jasad korban berhasil ditemukan  pada hari Sabtu pagi (29/12), sekitar Pukul 07.15 Wib, tidak jauh dari TKP korban menghilang.

Menurut Cipto Yuono, Tokoh pemuda setempat yang ikut serta dalam proses pencarian mengatakan, korban di temukan oleh warga sekitar Pukul 07.15 Wib tadi tidak jauh dr TKP. Terdapat beberapa luka di tubuh korban diperkirakan bekas gigitan saat ini jenazah koban sudah di semayamkan di rumah duka, di Desa Sinar Laut Kecamatan Pondok Suguh.

Selain itu, Kapolsek Pondok Suguh, IPDA Dilia Pria Firmawan, Mengimbau kepada seluruh masyarakat Kecamatan Pondok Suguh. Agar Diharapkan selalu berhati - hati dan waspada apabila melakukan aktivitasnya seperti memancing dan lain-lain yang berdekatan dengan Pantai, Sungai dan Rawa. Imbau Kapolsek.

Pewarta : DH

Sedang mancing, Warga Pondok Suguh hilang diseret Buaya

Bengkulutime.net, Mukomuko - Warga Desa Sinar Laut Kecamatan Pondok Suguh dan sekitarnya, dihebohkan dengan kemunculan seekor buaya di aliran Sungai Air Hitam Kecamatan Pondok Suguh tepatnya di hulu sungai Desa Sinar Laut. Seekor buaya berukuran cukup besar, diduga telah menyeret salah seorang warga setempat, Herli Akbar

Bengkulutime.net, Mukomuko - Warga Desa Sinar Laut Kecamatan Pondok Suguh dan sekitarnya, dihebohkan dengan kemunculan seekor buaya di aliran Sungai Air Hitam Kecamatan Pondok Suguh tepatnya di hulu sungai Desa Sinar Laut. Seekor buaya berukuran cukup besar, diduga telah menyeret salah seorang warga setempat, Herli Akbar. Peristiwa itu terjadi, Jumat (28/12) sekitar pukul 15.00 WIB sore kemarin

Menurut teman korban sekaligus saksi mata pada kejadian sore tersebut, Gofur menjelaskan, Sekitar pukul 14.00 WIB sepuluh orang warga desa sinar laut berniat memancing di muara Air hitam desa sinar laut, mereka berkelompok, kemudian kelompok sendiri terdiri dari 3 orang yaitu saudara Ani 45 tahun, Marwan 32 tahun, Gofur 17 tahun dan korban sendiri yaitu Eli Akbar umur 18 tahun. Diketahui oleh saksi pancing saudara Ani tersangkut saat di makan ikan dan kemudian Korban ber inisiatif untuk turun dengan cara menyelam setelah ditunggu beberapa saat korban tidak keluar lagi ke daratan tidak berapa lama korban muncul di permukaan dalam posisi sudah di gigit buaya dan korban sempat di bawakan oleh buaya itu ke mudik dan hilang, kejadian terseebut terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, Jelas Gofur.

Dilanjutkan oleh Camat Pondok Suguh, Abdul Hadi, S.Sos, Kemarin. Ia menanyampaikan, hingga pukul 20.20 WIB, Masyrakat bersama pihak-pihak lainnya masih melakukan pencarian dengan cara menyisiri  aliran sungai dan ada juga warga yang masuk ke sungai dengan cara menyelam. Selain itu kata Camat, pihaknya juga sudah melaporkan kejadian tersebut kepada Bupati Mukomuko dan berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Instansi terkait lainnya. 

Hingga berita ini diturunkan pada hari Sabtu (29/12), pukul 04.00 WIB pagi ini, warga dibantu Relawan dan sejumlah pihak terkait masih berupaya melakukan pencarian terhadap korban.

Pewarta : DH

Thursday, December 27, 2018

Respon Tsunami di Lampung dan Banten, Aktivis PMII Bengkulu Galang Dana

Bengkulutime.net, Kota Bengkulu - Sejumlah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bengkulu melakukan aksi penggalangan dana untuk korban tsunami di Lampung dan Banten

Bengkulutime.net, Kota Bengkulu - Sejumlah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bengkulu melakukan aksi penggalangan dana untuk korban tsunami di Lampung dan Banten. Aksi penggalangan dana dilakukan di Simpang Lima Ratu Samban Kota Bengkulu (Rabu, 26/12/2018). Dalam Aksi penggalangan dana tersebut berhasil terkumpulkan dana sebesar Rp.4.289.000.  Hasil dari penggalangan dana ini nantinya akan didistribusikan kepada korban tsunami di Lampung dan Banten.

Menurut aktivis PMII, Fauzan, aksi serupa sudah sering dilakukan oleh PMII Bengkulu dalam merespon musibah yang terjadi di tanah air. "Ini sebagai bentuk solidaritas sebangsa dan setanah air.

Dilanjutkan oleh Rami Aziz, Kami dari  PMII Bengkulu mengucapkan terimakasih banyak kepada Saudara - Saudara yang sudah ikut membantu menyumbang untuk Saudara - Saudara kita yang terkena bencana Tsunami  di Lampung dan Banten. Semoga kebaikan Saudara di berkahi dan bermanfaat bagi Saudara kita di Lampung dan Banten, Tambah Rami Aziz.

Pewarta : DH

Gebyar ke-5 Himti UMB, Peserta apresiasi kegiatan Donor Darah

Bengkulutime.net, Bengkulu - Dalam rangka memperingati hari jadi yang ke-5, Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhamammadiyah Bengkulu (HIMTI FT UMB)

Bengkulutime.net, Bengkulu - Dalam rangka memperingati hari jadi yang ke-5, Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhamammadiyah Bengkulu (HIMTI FT UMB). Mengadakan berbagai macam perlombaan dan kegiatan Bakti Sosial. Yang berlangsung mulai dari tanggal 16-28 Desember 2018. Salah satunya adalah  kegiatan Donor Darah.

Dalam Kegiatan Donor Darah (Rabu, 26-12-2018), HIMTI UMB bekerja sama dengan pihak PMI Kota bengkulu. Melakukan Kegiatan Donor Darah yang bertempat di kampus satu UMB. Dalam kegiatan tersebut tampak para peserta Donor Darah sangat antusias untuk berpartisipasi. Kegiatan yang di mulai dari jam 10.00 - 13.00 WIB ini. Di ikuti oleh 21 orang pendonor baik dari Mahasiswa maupun Umum. Dan berhasil mengumpulkan darah sebanyak dua belas kantong.

Nadia Berliana (peserta/Mahasiswa) Mengatakan, Dirinya sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini. Karena selain bermanfaat bagi kesehatan pendonor, kegiatan donor darah ini juga sangat bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan darah. Ditambahkan oleh Melio Sukanto ( peserta/umum) mengatakan, dirinya berharap kegiatan positif seperti ini terus di adakan dan kalau bisa hima-hima lain juga bisa mencontoh kegiatan yang di adakan oleh Himti tersebut.

Reporter : DH

Monday, December 24, 2018

Pantai Panjang Bengkulu, Pantai Terpanjang Se-Asia Tenggara

Pantai panjang bengkulu, pantai terpanjang se-asia tenggara

Bengkulutime.net, Bengkulu - Pantai panjang merupakan salah satu destinasi wisata favorit bagi masyarakat Bengkulu. Pantai ini berlokasi di Jalan Pariwisata, kota Bengkulu dan membentang sejauh 7 km jauhnya. Sehingga tak ayal pantai ini dinobatkan sebagai pantai terpanjang se-asia tenggara.

Pantai panjang bengkulu merupakan pantai pasir putih dan tidak memiliki terumbu karang. Saat sedang surut, lebar pantai bisa mengembang hingga 500 meter sehingga hamparan pasir putih terlihat semakin luas dan menambah daya tarik pemandangan di pantai tersebut.

Sepanjang pinggiran pantai panjang banyak ditumbuhi oleh pohon cemara sehingga saat siang hari yang panas sekalipun, hawa di pinggiran pantai masih terasa sejuk. Hal ini dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk sekedar mampir dan bersantai. Tentu saja akan terasa lebih asyik apabila mengajak keluarga maupun teman-teman untuk sekedar duduk-duduk santai sembari menikmati pemandangan pantai panjang yang eksotis.

Bagi anda pecinta olahraga, pantai panjang juga sering dijadikan tempat untuk olahraga surfing. Di sekitaran pantai pun ramai juga pengunjung bermain bola kaki dan volly. Bukan hanya itu, Disini juga terdapat jogging track sepanjang garis pantai. Pengunjung yang datang biasa berolahraga jogging di sini pada pagi dan sore hari.

Selain itu, terdapat fasilitas Sport Center di pantai panjang ini. Disini pengunjung bisa bebas memakai lapangan yang tersedia untuk berolahraga basket dan sepeda. Di sport center ini juga sering diadakan event-event bagi masyarakat Bengkulu baik itu dari pemerintah sendiri yang mengadakannya maupun dari pihak lain.

Selain pemandangan serta fasilitas yang tersedia di tempat ini, pantai panjang Bengkulu juga menjadi spot favorit untuk berburu foto senja. Biasanya di sore hari, pantai panjang akan ramai pengunjung terutama dari kawula muda untuk berlomba-lomba mendapatkan foto matahari senja yang terbaik. Biasanya foto senja yang didapat akan di share di sosial media masing-masing dengan diiringi caption yang menarik dan puitis.

Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang terdapat di pantai panjang Bengkulu. Untuk mengetahui lebih lanjut, anda bisa langsung berkunjung ke lokasi bersama kawan-kawan, keluarga, maupun sendirian pun tak apa-apa dan nikmatilah pesona yang ditawarkan pantai panjang Bengkulu ini.

Saturday, December 22, 2018

Tampil perdana, Tim Ibu Kota Selagan Raya berhasil meraih kemenangan


Bengkulutime.net, Mukomuko - Tampil perdana pada Turnamen Sepak Bola Tuah Selagan cup II. Di Desa Sungai Ipuh Dua (22/12/2018). Tim Ibu Kota Selagan Raya berhasil meraih kemenangan atas lawannya dari tim Desa Lubuk bangko. Menurut pantauan Bengkulutime.net Mukomuko. tim keseblasan Sungai Ipuh memang sudah tampil menekan sejak laga di mulai.

Beberapa peluang emas berhasil di ciptakan oleh keseblasan putih kuning tersebut. Namun baru pada menit ke-20 tim keseblasan Ibu Kota Berhasil Mencetak Gol ke gawang Lubuk Bangko.

Berawal dari pelanggaran keras yang di lakukan oleh salah satu pemain Lubuk Bangko di dalam kotak pinaltinya sendiri. Wasitpun memberi hukuman dengan menunjuk garis putih untuk keseblasan Ibu Kota. Redi Iswanto pemain bernomor 9 dari Ibu Kota yang di percaya sebagai algojo pinaltipun berhasil menjalankan tugasnya dengan sukses. Skorpun berubah 1-0 untuk ke unggulan tim Ibu Kota hingga turun minum babak pertama.

Setelah peluit babak kedua ditiup Tim keseblasan Ibu Kota tampak masih mendominasi permainan.
beberapa peluang berhasil diciptakan. dan tampak sesekali  Tim keseblasan Lubuk Bangko pun berhasil memberi ancaman kegawang tim Ibu Kota. Namun sayang tidak ada gol tercipta dari kedua keseblasan. Skor 1-0 untuk keunggulan tim Ibu Kota pun bertahan  hingga peluit panjang di tiup oleh wasit.

Atas kemenangan tersebut tim Ibu Kota berhak lolos ke babak selanjutnya. Di babak selanjutnya tim Ibu Kota akan bermain pada tanggal 26 mendatang menghadapi pemenang antara tim keseblasan Aur Cina vs Talang Buai.

Reporter : DH

Friday, December 21, 2018

Gadis Ambai, Cerita Rakyat dari Bengkulu Sungai Ipuh


Bengkulutime.net, Mukomuko - Cerita Rakyat Bengkulu Gadis Ambai. Gadis Ambai adalah sebuah cerita rakyat dari Sungai Ipuh yang suatu daerah terpencil sebelah utara dekat perbatasan Kerinci. Cerita ini sebenarnya seirama dengan cerita Malim Deman atau pun cerita Nawang Wulan. Hanya saja perbedaannya, kalau Malin Deman dan Nawang Wulan pelakunya berasal dari bumi dan kayangan,maka cerita rakyat ini, kita akan menjumpai pelakunya berasal dari negeri bawah air. Yang lazim disebut rakyat sebagai hantu air.

Nah beginilah ceritanya. Di Sungai Ipuh suatu daerah sebelah utara dekat perbatasan Kerinci, hiduplah seorang bujang yang bernama Lelo. Perawakan badannya cukup perkasa dan tampan untuk ukuran pemuda masa itu, bujang Lelo ini sudah agak tua, belum juga disinggahi jodoh. Manakala teman sebayanya mengejeknya sebagai bujang tua, ia dengan tersenyum menjawab, "belum ada jodoh." Demikian olok-olok temannya itu semakin santer saja.

Karena tidak tahan menahan olok-olok itu bujang Lelo memutuskan untuk mengungsi ke kebun saja. Di kebun ia bekerja dengan rajin, selain bercocok tanam, ia mengusahakan penyadapan aren, untuk dibuat gula atau manisan. Letak kebunnya di tepi sebuah sungai besar, Selagan namanya. Sungai Selagan ini bersama-sama dengan sungai Majuto, bermuara di Muko-muko ibu Kota Kecamatan Muko-Muko Utara sekarang ini.

Pagi itu cerah. Seperti pagi dihari-hari kemarinnya. Bujang Lelo dengan rajin melewatkan waktunya mengumpulkan hasil sadapan air niranya. Tapi pagi ini sial kedatangan tamu. Tabung air nira yang terbuat dari ruas bambu ternyata kosong, sedang tabung-tabung yang terletak jauh dari sungai-sungai semuanya berisi. Ia bertanya-tanya di dalam hatinya. Mengapa pula air nira di tepi sungai ini kosong.

Sedang pada hari-hari kemarin aren tersebut banyak airnya. Sejak itu bujang Lelo selalu kecewa. Pernah pertengahan malam bujang Lelo memeriksa tabung-tabung itu ternyata berisi. Walau hanya beberapa tetes. Namun manakala pagi datang menjelang, tabung-tabung itu kosong. Sampailah di pagi yang ketujuh dan peristiwa itu terjadi lagi bujang Lelo bangkit amarahnya. Ia mulai nekad. Malam itu bulan purnama, ia mengambil keputusan untuk mengintai dari dekat. Siapakah gerangan yang mencuri air niranya. Di bawah pohon aren ia membentangkan tikarnya sambil berjaga dengan sebuah senjata.

Malam semakin larut sunyi dan sepi. Tapi sudah sekian jam berjaga-jaga tak ada tanda-tanda pencuri itu datang. Kira-kira tengah malam ia terkejut dengan suara bisikan halus dan merdu yang datang dari arah sungai. Ia terbangun, namun tetap terbaring. Perlahan-lahan bisikan itu semakin dekat dan nyata, ternyata suara dari beberapa orang wanita dari dekat, dilihatnya seorang gadis mendekat ke batang arennya. Ia menaiki tangga mencapai tabung nira dan minum beberapa teguk dengan hati-hati, kemudian diletakkan kembali lalu turun menuju sungai dan terjun. Bujang Lelo terpersona tanpa bersuara, ia tak sanggup mengambil tindakan.

Pada saat belum habis terpesonanya, muncul satu gadis lagi dan mengikuti perbuatan gadis yang pertama dan turun lalu terjun ke sungai. Bujang lelo bertambah tertarik. Ia menunggu selanjutnya. Demikianlah satu per satu gadis-gadis itu bergantian minum air nira dengan disaksikan oleh bujang Lelo dengan diam. Sampailah urutan ke tujuh muncul seorang gadis yang cantik dari yang lainnya Bujang Lelo hanya mampu mendesahkan napas berat saja. Ia seakan bermimpi indah dan hari pun siang. Sejak itu bujang Lelo selalu galisah. Kecewa yang selama itu mengganggu pikirannya telah sirna diganti dengan kegelisahan tak menentu.

Berhari-hari bujang Lelo duduk ngelamun. Gelisah dan resah telah menghinggapi kalbunya. Pikirannya melayang-layang teringat akan peristiwa malam itu. Maklum anak muda. Ia pulang ke desanya. Teman-temannya datang mengerumuninya sambil bertanya. Kapan ia mengakhiri masa perjakanya. Tetapi dengan tenang dijawabnya. "Belum ada jodoh." Pengalaman itu diceritakannya dengan sahabat karibnya. Sahabatnya hanya menganggap Bujang Lelo sudah berubah akalnya. Ia hanya mampu tersenyum kecut. Sahabatnya sedih melihat angan-angan Bujang Lelo yang tak masuk akal itu. Celakanya lagi sahabatnya mencarikan dukun untuk mengobati penyakit yang di derita Bujang Lelo. Dan dari di Dukun inilah tersiar berita yang sudah dibumbui disana-sini.

Bujang Lelo semakin sedih. Olok-olok yang diterimanya sudah melampaui batas. Ia meminta nasehat sahabatnya. Berusaha meyakinkan sahabatnya, bahwa ceritanya itu bukanlah hal yang mustahil. Kali ini sahabatnya menunjukkan simpatinya. Ia ingin bujang Lelo jangan berputus asa. Ia menganjurkan untuk membuktikan kata-katanya. Caranya mudah. Tangkap saja salah satu dari gadis-gadis itu dan bawa pulang ke desa untuk menyumpal mulut-mulut usil di desanya. Bujang Lelo menerima saran itu. Ia berjanji untuk menangkap gadis yang tercantik yaitu gadis yang ke tujuh.

Malam itu Bujang Lelo mengintai lagi di tempat semula. Tapi hasilnya nihil. Ia juga menyadap aren itu. Ia kesal sekali akan keceroboannya. Ia kecewa dan pulang untuk mengadukan hal itu kepada sahabatnya. Kali ini sahabatnya menanggapi lebih serius. Sialnya lagi olok-olok itu semakin bertambah. Ia terpaksa pulang ke kebunnya untuk mengadu untung sampai berhasil. Sore itu ia kembali memasang tabung sadapan air nira. Malam pertama, kedua dan ketiga ia biarkan saja sebagai siasat. Setiap pagi ia rajin memeriksa tabung itu. Jika airnya ada, berarti gadis-gadis itu belum datang. Hari yang keempat didapatinya tabung itu kosong.

Berarti si Gadis telah datang. Benar saja, pada malam yang berikutnya gadis-gadis itu datang. Dari jauh sudah dilihatnya tujuh bayangan samar-samar mendekati pojon arennya. Satu per satu bayangan itu berganti-ganti untuk bergiliran menaiki tangga pohon aren itu. Bujang Lelo menunggu giliran yang ke tujuh. Tepat ketika yang ketujuh sedang menikmati air nira, Bujang Lelo sudah berada di bawah pohon menunggu dengan seutas tali. Perlahan sekali tangan gadis itu ditangkapnya. Gadis itu meronta-ronta, tapi dengan siap tali itu diikatkan ke tangan gadis itu dan diseret pulang. Dengan sekuat tenaga gadis itu ingin melepaskan diri. Namun tak dapat dan haripun siang.

Bujang lelo menatap sepuas hatinya kepada gadis itu, ia mereguk kejelitaan itu dengan matanya. Bujang Lelo bertanya, "Siapa namamu?" membalas gadis itu bertanya; "Kau siapa?" "Jawab dulu pertanyaanku tadi." Bujang Lelo tergagap.

"Pertanyaan apa?"

"Namamu siapa hai gadis yang jelita?"

"Namaku?"

"Ia namamu."

"Teman- temanku memanggilku Gadis Ambai."

"Oh, Gadis Ambai, Sebuah nama yang baik"

"Dan kau?"

"Aku bisa dipanggil si Bujang Lelo."

"Hai bujang Lelo lepaskan ikatan ini. Aku bukan tawanan."

"Kau telah menawan hatiku," kata Bujang Lelo.

"Maafkan aku telah mencuri air niramu itu"

"Oh itu tidak menjadi soal", balas bujang Lelo.

"lalu untuk apa engkau mengikat aku ini?"

"Lepaskanlah."

"Tidak, nanti kau lari ke sungai itu, dan aku akan dicemoohkan oleh teman-temanku lagi."

"Aku tidak akan lari."

"Jangan kau bersiasat."

"Demi Tuhan aku tidak akan lari lepaskan aku, sudahlah siksaan ini Hai, Bujang Lelo" suara Gadis Ambai memelas.

"Berjanjilah Engkau," Kata Bujang Lelo. "Baik aku akan menurutmu," kata Gadis Ambai.

"Baiklah akan kulepaskan, tapi bukan disini, didesaku."

"Kau akan mempertontonkan aku?" kata Gadis Ambai.

Bujang Lelo berpikir sejenak, ia kasihan dengan keadaan tawanannya, lalu tali dilepaskannya. Kemudian Gadis Ambai berkata. "Aku tepati janjiku, mari kita ke desamu. Jangan melamun hei?" Waktu itu memang Bujang Lelo sedang melamun. Kedua remaja itu beriringan menuju ke desa, terus ke rumah ibunda si Bujang Lelo. Semua teman yang mencemoohnya kini berbalik memuji kecantikan Gadis Ambai. Semua memberikan komentar. "Memang aduhai, pantas saja Bujang Lelo sampai tua menunggu pujaan hatinya."

Hari-hari dilewati gadis itu dengan menolong semua pekerjaan ibunda Bujang Lelo. Sampailah pada suatu hari Bujang lelo meminta agar ibunda menikahkannya dengan Gadis Ambai.

"Ibu bagaimana kalau aku menikah dengan Gadis Ambai itu?"

"Boleh saja. Tapi ia hidup dialam lain. Dan kau hidup di alam yang berbeda dengannya. Apakah kau sudah berpikir masak-masak?"

"Sudah ibu."

"Setujukah dia kepadamu?" bujang Lelo hanya senyum-senyum saja. Gadis Ambai di tanya pula oleh si Ibu.

"Hai anakku Gadis Ambai, kemarilah engkau." "Siap bu." "Ibu ingin bertanya. "Jawab gadis Ambai pula, "Apakah yang ibu ingin tanyakan?"

"Begini anakku, si Bujang Lelo ingin menyuntingmu?"

"Apakah kau setuju?" Saya setuju," kata Gadis Ambai. namun dengan sebuah syarat. Syaratnya yaitu agar tidak membiarkannya mandi di sungai, Begitulah akhirnya perkawinan dilangsungkan. Pesta cukup meriah semua orang mengetahui bahwa Bujang Lelo telah menemukannya jodohnya.

Sudah sepuluh tahun mereka hidup sebagai suami-istri dan telah dikarunia seorang anak laki-laki yang sehat. Sawah dan ladang tumbuh dengan subur. Ternak ayam, itik, kambing dan kerbau demikian juga. Rukun dan damai hidup mereka.

Pagi itu Bujang Lelo pergi ke hutan mencari rotan. Guna untuk mempersiapkan menuai padi. Seperti biasanya gadis Ambai membawa anaknya ke sungai untuk mandi-mandi. Keadaan air sungai di pagi itu membuat keasyikan sendiri di dalam jiwanya. Menyelam dengan asyiknya sehingga ia lupa dengan anaknya yang sedang kedinginan di tepi. Anak itu memanggil sambil menangis, tapi tak dihiraukan lagi. Ia kembali ke alamnya semula. Siluman air. Bujang Lelo pulang dari hutan didapatkannya anaknya sudah kedinginan, menangis sambil memanggil ibunya. Bujang Lelo teringat akan janjinya tapi kini sudah terlambat.

Di sepanjang sungai Bujang Lelo berjalan menggendong anaknya sambil berteriak, namun tak ada jawaban. Ia berjalan terus. Di sebuah lubuk, Semantung Tinggi namanya, Bujang Lelo mendengar suara istrinya. "Hai Bujang Lelo bukan aku tak sayang padamu. Kanda telah lupakan janji. Jangan sesalkan aku peliharalah anak kita baik-baik. Kalau rindu akan daku tunggulah bulan purnama datang. Aku datang padamu. Tapi dalam mimpi." Tidak gadis Ambai. Aku sekarang rindu padamu. Tunggulah aku.

Aku akan segera menyusul bersama anak kita." "Jangan kanda" Namun peringatan itu terlambat. Bujang Lelo sudah terjun ke air itu menyusul sang istri tercinta. Anak dan bapak tenggelam di sungai bagai ditelan sungai Selagan. Sebab mayatnya tak dapat ditemukan. Ibu Bujang Lelo sangat sedih atas peristiwa anak itu, Sebab Bujang Lelo adalah tumpuan harapan untuk gantungan hidup masa tuanya. Bujang Lelo telah tiada.